Secarik Harapan di Balik Indah Pantai Kura-Kura

0
530
Foto: warta/ Muhammad Nurudin

Penulis: Herman Pelani Sandu

Langit masih gelap, para calon anggota telah mempersiapkan diri untuk menerima bimbingan dan menghadapi berbagai tes dari sang senior. Berangkat pukul 02:00 (30/12) lalu lintas masih sunyi dari suara desing kendaraan. Kendaraan kami mulai membuat hiruk pikuk di jalanan menuju pesisir pantai Kura-kura, Bengkayang. Kurang lebih 4-5 jam perjalanan kami tempuh dipandu sang sopir yang selalu menatap memperhatikan jalannya.

Suara bus yang selalu berkicau selama 5 jam membut kami terlelap dalam bus. Ketika matahari mulai menampakkan wujudnya, mata kami pun mulai terbuka dan melihat indahnya pesisir pantai. Nampak blank pemandangannya, karena masih terlalu pagi.

Semakin matahari menampakan wujudnya, semakin bertambah pula touris-touris lokal berdatangan untuk ikut menikmati pemandangan pesisir pantai. Kami pun tak mau kalah untuk menyibukkan diri dengan kegiatan kami yakni, Journalis Camp sebagai acara pelatihan dan pengukuhan kami sebagai anggota baru.

Saat melihat beribu pasang mata sempat saya melihat ibu tua sedang berdiam diri di depan tokonya (warung-red). Ku hampiri dan kubeli satu botol minuman darinya karena rasa iba pada diriku. Kebetulan dengan tugas yang saya dapat dari senior mengenai wawancara. Maka langsung ku lontarkan pertanyaan kepada ibu tua itu sebagai nara sumberku.

Ku tanyakan mengenai perekonomian yang ia alami, ibu tua menjawab “sebagai pedagang di tempat wisata perekonomian pun tak tentu nominalnya.” kadang naik dan kadang turun, bahkan pernah tidak mendapat penghasilan sepeser pun. Tapi Kinnah (63) namanya, merasa cukup dengan perekonomian ia dapat jikalau diukur untuk kebutuhan sendiri.

Beda halnya dengan Intan (40) seorang pedagang dengan 3 orang anak yag masih bersekolah, 6 tahun lamanya suara ombak selalu menemaninya sambil berjualan. Merasakan perekonomian yang belum cukup untuk keluarganya, belum lagi tagihan dari petugas bank yang selalu menghantuinya. Sang suami yang sudah tak bekerja memaksa Intan untuk berjualan 6 tahun lamanya.

Karna naik turunnya perekonomian mereka yang tak tentu, lahirlah harapan adanya bantuan dari pemerintah mengenai fasilitas jalan. Dari jalan raya menuju pantai kura kura. Karna banyak keluhan mengenai jalan yang belum hitam seutuhnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here