Sabtu, April 13, 2024
BerandaUncategorizedSungai ELLA Setitik Air Surga yang Tersembunyi di Melawi

Sungai ELLA Setitik Air Surga yang Tersembunyi di Melawi

Pesona alam Indonesia tidak pernah habis untuk diceritakan, selalu punya cara untuk kita mejelajah keindahannya. Disebelahan bumi bagian barat pertiwi Kalimantan, tepatnya Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, yang tak kalah memukau sebuah Gunung Bukit Raya (2.278 m dpl) menjulang tinggi dengan gagahnya seolah menantang langit.

Gunung itu juga cukup sombong dengan memamerkan kejernihan air Sungai Ella yang meliuk-liuk di kakinya. Kondisi alam hutan disekitar sungai masih asri jauh dari hingar bingar perkotaan. Perjalanan dari Pusat Kota Nanga Pinoh Melawi memakan waktu sekitar 3 jam mengunakan sepeda motor dengan medan jalan perbukitan yang naik turun.

Kalimantan barat juga dijuluki dengan Provinsi seribu sungai. Salah satu yang belum banyak penduduk dunia tahu adalah Sungai Ella yang membentang puluhan kilometer, melintasi desa satu ke desa yang lain di Kabupaten Melawi. Sungai Ella yang melintasi Desa Belaban Km 37-35, Camp PT Sari Bumi Kusuma (SBK), memiliki Spot terbaik untuk melakukan aktivitas arung jeram.

Kombinasi dari kondisi lereng sungai yang curam dan bebatuan sedimen yang acak membentuk riam hingga arus deras sungai cukup extreme dibeberapa titik. Oleh warga setempat, aktivitas arung jeram ini sebenarnya sudah biasa dilakukan terutama oleh orang dewasa dengan hanya menggunakan alat seadanya yang berupa pelampung dari ban mobil bekas, tanpa alat pengaman.

Foto: Ardion

Dari atas jembatan gantung yang membentang hingga kesebrang sungai, kita dapat menyaksikan maha karya tuhan berupa air sungai yang cenderung bersih dan jernih hingga menampakan dasar sungai ketika airnya surut. Suasana hutan pegunungan yang sejuk bersahabat dengan babatuan kali dan selingan pasir yang terbentang disepanjang tepian sungai.

Lorensiana Dea Angelina (21) salah seorang warga asli setempat dijumpai pada Februari 2024, ia menuturkan bahwa kawasan sungai itu justru sering dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk aktivitas sehari-hari, sedangkan pengunjung dari luar ramai ketika masa-masa liburan.

“Kalau masyarakat disini, seringnya untuk tempat mandi pas sore hari, dan biasanya pun untuk sedekar nyuci pakaian, tapi juga ada yang menjala ikan, mancing ikan. Kalau liburan kadang area sekitar sungai digunakan acara bakar-bakar dengan kerabat keluarga, banyak yang dari luar pun datang liburan,” Tutur Dea.

Kawasan ini sebetulnya merupakan bagian dari Cagar Alam Bukit Baka dan Cagar Alam Bukit Raya, yang kemudian digabung menjadi satu tempat destinasi yaitu Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), diresmikan pada 26 Februari 1992 silam. Namun saat itu kawasan hutan yang dilindungi ini masih sangat asing ditelinga mayarakat karena tempatnya yang terpencil dan akses jalan masih belum memadai.

Foto: Gemma Paulina Saragi

Pada tahun 2016 SPTN Wilayah I Nanga Pinoh mulai membangun Resort Belaban setelah melihat potensi alam di TNBBBR. Beberapa objek dan daya tarik wisata yang terdapat di Resort Belaban diantaranya Camping Ground, Arung Jeram, Canopy Trail, Air Terjun Guhung Elang , Bird Wacthing dan Hammock bertingkat. Daya tarik alam lainnya adalah potensi flora fauna yang ada di cagar alam, diantaranya ialah Orangutan, Owa, Enggang Gading, Tengkawang, Ulin, dan Meranti. Semenjak adanya pengelolaan Resort Belaban ini, spot wisata hutan dan sungai pun kemudian mulai dikenal dan digandrungi pengunjung dari daerah lain terutama para pencinta alam dan Mahasiswa yang menyukai kegiatan alam nan extreme.

Namun kondisi terkini dari destinasi Wisata Alam Belaban terlihat sudah sepi dari pengunjung. Telah terjadi konflik PHK Massal pada seluruh elemen pekerja dan karyawan tetap PT SBK- Camp Km 35 pada mei 2023 lalu. Hal tersebut ternyata berdampak cukup besar ke perekonomian masyarakat sekitar sebab mayoritas warga memang bergantung dan menjadi pekerja tetap di perusahaan tersebut. Sebagian besar warga setempat memilih bermigrasi ke daerah lain hingga hanya menyisakan beberapa kepala keluarga saja yang bertahan di Camp Km 35. Alhasil jumlah penduduk yang tinggal di wilayah sekitar TNBBBR yang semula padat kini jadi berkurang dan semakin sepi akan segala aktivitas masyarakat, bahkan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar Swasta Sari Lestari yang dibangun di Camp Km 35 dipaksa tutup karena staf maupun guru yang menjadi tenaga pendidik disana juga ikut di PHK massal, siswa pun terpaksa pindah sekolah.

Dea yang juga merasakan dampak dari konflik tersebut berharap agar Wisata Alam Belaban tetap bertahan dan melakukan pembangunan berkelanjutan.

“Meskipun letaknya jauh dari pusat kota, namun saya berharap para pengelola resort dan Balai Taman Nasional bisa membantu mempromosikan dan mengembangkan tempat wisata alam belaban agar menjadi destinasi alam yang tepat dan dikenal banyak orang, juga agar para wisatawan yang datang dapat menikmati wisata dengan nyaman,” tutup dea.

 

Penulis : Cici

Penyunting : Aal

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments