Minggu, Juli 21, 2024
BerandaWarta EssaiJalan Jauh Jangan Lupa Tenang, Melawan Cacat Logika

Jalan Jauh Jangan Lupa Tenang, Melawan Cacat Logika

Ilustrasi gambar dari jurnalis LPM WARTA 

 

wartaiainpontianak.com – Keributan yang melibatkan simpatisan HMI yang berasal dari Sulawesi Selatan-Sulawesi Barat cukup menjadi sorotan. Bentrok sesama kader Yakusa viral di media sosial.

Sontak warganet kaget dengan kericuhan yang viral. Terlebih warga yang tinggal di Kota Pontianak, dikejutkan—mendadak, adanya gelombang masa yang cukup ramai. Dampaknya jalanan menjadi macet akibat kericuhan dijalan. Sejumlah ruas jalan protokol terpaksa dialihkan. Bahkan masa sengaja memblokade sejumlah ruas jalan.

Bagi sebagian yang awam bertanya. Ada apakah gerangan, sedang event apa, gelombang masa datang dari luar pulau tujuannya apa mereka datang.

Pertanyaan-pertanyaan itu sekejab terjawab setelah pemberitaan kedatangan Presiden RI Jokowi untuk membuka Kongres HMI ke-32 dan Munas Kohati ke-25 di Hotel Qubu Resort Kubu Raya.

Presiden Jokowi memang membuka secara resmi Kongres tersebut. Namun luka warga belum sempat tertutup, karena beberapa yang protes sebab ada kericuhan, macet, dan dampak sosial lainnya.

Sejak awal kita memang mendukung perhelatan akbar Kongres Nasional yang diadakan PB HMI. Sebuah kebanggan dapat berlangsung di Provinsi Kalbar. Kesempatan mempromosikan potensi Daerah pun kian terbuka.

Tetapi, apabila prinsip di situ bumi dipijak langit junjung tidak terpakai. Maka hati siapa yang tak terluka. Setidaknya, dari awal gelombang masa itu mesti lebih tenang dan rati saat berkunjung ke kota orang.

Anda sopan kami segan. Mirip seperti pribahasa awak datang kamek sambot yang kerap diutarakan warga Pontianak.

Warga Pontianak, umumnya Kalbar akan sangat terbuka dengan tamu dari luar daerah. Mereka tidak akan segan-segan melayani, menjamu tamu-tamu yang datang. Asal, tak ngelunjak.

Melipir ke sisi lain, apresiasi pantas disematkan pada aparat kepolisian yang telah meredam suasana. Kericuhan dan gesekan di sosmed berbau SARA telah disejukan seperti sediakala. Polisi mengambil fungsi pengayoman yang presisi.

Terlepas dari pro kontra sebab musabab kericuhan— protes akomodasi yang tak sesuai ekspektasi, konsumsi yang tak cukup porsi, sepertinya terlalu remeh temeh untuk dibicarakan. Apalagi, yang diurus ialah Romli (rombongan liar) atau simpatisan sejak awal tadi.

Upaya klarifikasi juga sudah dilayangkan Pj Gubernur Kalbar, bahwa hanya sekedar miss komunikasi, ia pun memastikan Kongres HMI kondusif.

Sedikit melegakan jikalau demikian. Namun faktanya, mau tidak mau, diterima atau tidak, nasi sudah menjadi bubur. Keos yang diceritakan tadi dari awal telah mencoreng marwah HMI. Siap salah, kalau pembenerannya keos demikian merupakan tradisi dan bentuk kecintaan simpatisan ke organisasi.

Namun pro kontra akan terus ada. Catatan peristiwa itu sudah terlanjut ada di berita. Sebab fourtwenty pun pernah berkata akan selalu ada hitam dan putih.

Kedepannya, ini harus menjadi pelajaran berharga supaya tak terulang. Sebab potensi kericuhan sesama anak bangsa dapat menjadi pemecah persatuan.

Alih-alih Kongres HMI tak memunculkan keributan justru menjadi perekat paling mujarab untuk menelurkan pemimpin yang punya peran stategis. Pemimpin yang berdaya, unggul, dan punya gagasan besar, – bukan yang hanya diperalat untuk motif kepentingan belaka.

Meminjam kata kata WS Hendra, ilmu-ilmu yang diajarkan di perguruan tinggi itu untuk menjadi alat pembebasan atau menjadi alat penindasan.

Penulis : Maksum

Penyunting : Gaga

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments