Home / Warta Utama / HARI FILM NASIONAL: ANTARA APRESIASI DAN HARAPAN

HARI FILM NASIONAL: ANTARA APRESIASI DAN HARAPAN

Gambar : https://blog.google/technology/ai/

Hari Film Nasional merupakan peringatan Hari Film di Indonesia yang diperingati setiap tanggal 30 Maret yang ditetapkan oleh Dewan Film Nasional dan diresmikan oleh Presiden B.J Habibie melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 25 Tahun 1999 sebagai momen penting untuk mengapresiasi perkembangan perfilman di Indonesia. Peringatan ini bertepatan dengan hari pertama pengambilan gambar dari film Darah dan Doa (The Long March of Siliwangi) karya sutradara Indonesia Ismail Marzuki melalui perusahaan filmnya sendiri, PERFINI (Perusahaan Film Indonesia) pada tanggal 30 Maret 1950.

Film Indonesia sebenarnya sudah mulai diproduksi sejak zaman penjajahan Belanda melalui film berjudul Loeotoeng Kasaroeng pada tahun 1926. Sayangnya film tersebut disutradai oleh L. Heuveldorp dan G. Krugers yang merupakan orang Belanda dan mencerminkan adanya dominasi Belanda di Indonesia pada saat itu. Oleh karena itu, film Darah dan Doa dianggap sebagai karya nasional pertama dan titik bangkitnya perfilman Indonesia karena diproduksi oleh orang Indonesia dengan semangat dan identitas kebangsaan.

Di era digital saat ini, cara masyarakat menikmati film sudah banyak berubah. Akses yang semakin mudah membuat penonton dapat menikmati berbagai tayangan kapan saja melalui platform streaming seperti Disney+ atau Netflix, tanpa bergantung sepenuhnya pada bioskop. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari semakin meningkat, sebagaimana juga dicatat oleh Badan Pusat Statistik bahwa pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi terus mengalami peningkatan. Di sisi lain, kemudahan ini juga menjadi tantangan bagi film Indonesia karena harus bersaing dengan film luar yang semakin mudah diakses oleh masyarakat. Oleh karena itu, Film Indonesia perlu mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan ciri khas budayanya.

Dalam hal ini, Hari Film Nasional seharusnya tidak hanya dipahami sebagai bentuk apresiasi terhadap karya film Indonesia, tetapi juga sebagai momen untuk melihat kembali arah perkembangannya. Perayaan ini bisa menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi dan arus globalisasi, Film Indonesia memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai budaya dan identitasnya. Dengan begitu diharapkan industri film nasional tidak hanya berkembang secara kuantitas, tetapi juga semakin kuat dari segi kualitas dan karakter yang dimilikinya.

Penulis : Rudi

Penyunting : Tim Penerbitan

Loading

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *