Meet and Greet PIAUD Digelar Dengan Berbagai Penampilan Bakat Mahasiswa PIAUD

0
385

Wartaiainpontianak.com –  Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) melaksanakan Meet and Greet sekaligus Sharing Session dengan tema “Membangun Keakraban Bersama Mahasiswa PIAUD” di Cafe New Normal Jl. Reformasi (06/11).

Acara tersebut dihadiri oleh mahasiswa PIAUD, alumni mahasiswa PIAUD, Ketua Program Studi PIAUD Bunda Helva Zuraya S.Pd., M.Ag, Ketua Program Studi PIAUD angkatan pertama yang kini menjabat Wakil Dekan 1 Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Nur Hamzah, S.Pd.I., M.Pd dan alumni PIAUD yang sekarang telah menjadi dosen muda di PIAUD Bunda Maria Ulfa, M.Pd.

Pada kesempatan kali ini, Nirmawati sebagai Ketua Panitia Meet and Greet Mahasiswa PIAUD menyampaikan bahwa pembentukan kepanitiaan pada tanggal 24 November 2020 di Ma’had IAIN Pontianak yang dihadiri oleh 17 orang mahasiswa PIAUD. Anggaran yang dikeluarkan untuk kegiatan ini yaitu sebesar Rp 2.000.000 dengan rincian konsumsi peserta (minuman, snack dan makan) serta beberapa perlengkapan lain penunjang kegiatan ini. Halangan dan rintangan yang dirasakan dalam pelaksanaan kegiatan yaitu situasi dan kondisi saat ini yang masih dalam masa pandemi, “Sulit mencari tempat acara karena Covid,” tambah Nirmawati.

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) PIAUD periode 2019/2020, Nuraini Oktavia terkait dengan tema di atas, berharap agar keakraban mahasiswa PIAUD dapat terbangun dengan baik. Minimal, mahasiswa PIAUD harus mengenal program studinya sendiri. Dengan demikian Nuraini sangat mengharapkan bahwasanya ada timbal balik yang dirasakan setelah meet and greet ini. Nuraini juga menyampaikan bahwa kegiatan ini baru kembali dilakukan setelah beberapa tahun lalu tidak dilakukan. “Semoga dengan kegiatan hari ini, kita dapat membangun keakraban walaupun dalam situasi Covid-19. Dan semoga wabah ini bisa hilang dengan do’a-do’a kita selama ini agar kita dapat berkumpul kembali bersama.” tambah Nuraini.

Kata sambutan selanjutnya oleh Hamzah yang menyampaikan bahwa di seluruh Indonesia itu lulusan PIAUD belum sampai pada angka ratusan, sehingga peluang lulusan PIAUD sangat besar untuk menjadi dosen. Bahkan, buku untuk mahasiswa PIAUD sangatlah langka sehingga dipasarkan akan menjadi mahal harganya. Hal demikian terjadi karena buku untuk anak-anak tidak mungkin dibuat dengan sederhana, perlu ada banyak warna dan kata-kata sedergana sehingga mudah dipahami. Perlu diketahui, bahwa penulis dari buku-buku PIAUD adalah ibu rumah tangga. Berarti, ini menunjukkan bahwa lulusan-lulusan PIAUD sangatlah kreatif. Hamzah menggambarkan PIAUD yang dulu dipegang dengan PIAUD sekarang adalah pengelolaan manajemen lebih baik dengan sumber daya yang terus bertambah. “Semoga prodi PIAUD akreditasinya naik, prestasi mahasiswanya bisa ke tingkat nasional dan lebih banyak lagi calon mahasiswa yang masuk. Serta lebih banyak lagi mahasiswa yang tampil dalam bidang akademik.” tegas Hamzah.

Bunda Helva yang memandang bahwa Mahasiswa laki-laki yang berada di PIAUD sangatlah minim. Walaupun minoritas laki-laki di PIAUD, sejauh ini tidak ada laki-laki dari program studi PIAUD yang mengundurkan diri karena faktor minoritas. Memang ada yang mengundurkan diri tetapi karena faktor lain.
Menurutnya banyak calon mahasiswa yang menganggap bahwa PIAUD mayoritas perempuan dan pandangan orang-orang tentang guru TK adalah menari, bernyanyi dan segala kegiatan perempuan. Tetapi sebenarnya pertama kali pendidikan dimulai dan dikembangkan serta pembentukan karakter pertama adalah oleh guru PIAUD. “Alhamdulillah setiap tahun walaupun dengan mahasiswa laki-laki minim tapi selalu ada walaupun hanya 2 atau 3.” tambah Helva.

Setelah kata sambutan selesai, mahasiswa PIAUD foto bersama dan makan bersama sambil menyaksikan penampilan tari oleh mahasiswa PIAUD. Setelah itu, yaitu sharing session, yang dimoderatori oleh Enjelin Okta Andini. Dini juga menjadi moderator dengan boneka tangan yang lucu bernama Jojo.
Sharing session kali ini bersama Bunda Maria. Maria menceritakan proses perjalanan dirinya hingga pada proses sekarang bukan lah proses yang mudah. Maria mengajak para hadirin yang datang untuk menuju sukses dengan 4 hal yaitu mengubah pola pikir, berencana, menjelajahi diri, dan memperbarui diri sendiri dengan belajar. Satu lagi kunci suksesnya adalah menghilangkan sifat “baper”. Jangan mudah baper dengan penilaian orang, bisa jadi penilaian itu terjadi karena dia kita sendiri yang tidak menyadari hal itu. Maria juga mengeluh bahwa PIAUD kekurangan dosen. “Kalau dosennya sudah menjiwai walaupun bukan dari latar belakang PIAUD, tapi menjiwai di PIAUD dan posisinya di PIAUD insya Allah akan lebih baik.” tutup Maria.

Reporter : Feby Kartikasari

Editor : Mei Hani Anjani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here