GERAKAN LITERASI DIGITAL SOLUSI HADAPI KRISIS PENDIDIKAN DAN EKONOMI DI MASA PANDEMI COVID-19

0
571
Infografik Potensi Ekonomi Digital Indonesia (Sumber : Katadata.co.id)

Pandemi virus Corona atau Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 telah berdampak pada berbagai aspek kehidupan kita, sehingga semua kegiatan yang memiliki potensi mengumpulkan massa ditiadakan guna menekan penyebaran Covid-19 yang terus meningkat. Maka perlu adanya gerakan literasi digital di semua jenjang agar masyarakat tetap produktif dengan tetap beraktivitas di rumah selama masa pandemi ini.

Mengutip dari Panduan Gerakan Literasi Nasional tahun 2017, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia menetapkan 6 (enam) literasi dasar yang harus diketahui, yaitu literasi baca dan tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan. Mengacu pada perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, gerakan literasi digital sangat dibutuhkan bagi semua jenjang. Hal ini akan didukung oleh peningkatan penggunaan smartphone di Indonesia.

Berdasarkan infografik terbitan Katadata, penggunaan smartphone di Indonesia diprediksi akan terus meningkat. Prediksi ini dilakukan hingga tahun 2025 setidaknya bakal ada 89% populasi penduduk bagi semua jenjang di Indonesia akan memanfaatkan beragam fitur di smartphone.


Infografik Penggunaan Smarthphone di Indonesia (Sumber : Katadata.co.id)

 

Penerapan literasi digital untuk anak balita dibutuhkan kreativitas orang tua agar anak ikut tertarik, salah satunya dengan bermain sambil belajar. Tentu kegiatan ini akan lebih menyenangkan bagi mereka karena bermain bisa menghilangkan rasa bosan terhadap aktivitas belajar. Terlebih kebiasaan anak untuk bermain dengan gadget-nya sulit dihilangkan. Untuk mengubah kebiasaan itu ke arah yang lebih positif, perlu pendampingan orang tua terhadap anak selama pembelajaran daring. Melalui literasi digital, anak dapat diajarkan untuk bisa memanfaatkan berbagai aplikasi smartphone edukasi anak, mulai dari ilmu agama, belajar membaca, menghitung, menggambar, mewarnai, bermain musik, menyanyi dan sebagainya.

Aplikasi edukasi juga menunjang belajar berbagai mata pelajaran yang dibutuhkan tingkat pelajar, mulai dari anak SD, SMP hingga SMA. Untuk mendukung aktivitas belajar dari rumah, beberapa start-up pendidikan dan perusahaan teknologi berkomitmen dengan memberikan bantuan gratis. Selaras dengan ini, pemerintah melalui Kemendikbud RI bekerja sama dengan berbagai platform untuk menyediakan aplikasi pembelajaran daring, seperti Ruangguru, Zenius, Google, Microsoft, Quipper, Sekolahmu, dan Kelas Pintar.

Selain itu, dalam upaya penguatan literasi digital ini perlu kesiapan sarana dan prasarana serta keterampilan teknis. baik di kalangan mahasiswa maupun dosen. Adapun tindakan yang bisa dilakukan ialah pendampingan literasi digital dalam pengembangan pendidikan dengan konten pembelajaran maupun workshop e-learning. Biasanya media pembelajaran dan workshop ini dilakukan tatap muka dengan menggunakan aplikasi Google Meet dan Zoom. Dua aplikasi ini menjadi layanan konferensi video yang sangat dikenal di seluruh dunia.

Tak hanya itu, peran kedua aplikasi layanan ini juga kerap digunakan untuk menggelar rapat saat bekerja dari rumah selama pandemi Covid-19. Diharapkan melalui pendampingan literasi digital, kemampuan mitra dapat meningkat karena dampak ekonomi juga menjadi salah satu yang paling dirasakan masyarakat. Masyarakat dituntut untuk pintar mencari peluang sebab pemerintah menganjurkan para pekerja untuk bekerja dari rumah atau work from home (WFH) untuk menekan penyebaran Covid-19.

Di tengah pandemi ini ada beberapa peluang bisnis yang bisa dimanfaatkan. Mengingat aktivitas bisnis juga kini semakin mudah karena sudah mengarah ke digital. Tentu literasi digital perlu dimanfaatkan dalam menunjang aktivitas yang lebih bermanfaat untuk kemaslahatan masyarakat seperti pelaku usaha khususnya usaha skala kecil, baik belajar tentang tren bisnis digital, cara membangun portal usaha, menjalin hubungan yang baik dengan konsumen menggunakan teknologi, dan lainnya.

Khususnya di masa-masa pandemi seperti saat ini, Gapura Digital telah menghadirkan begitu banyak kelas gratis seputar pengembangan keterampilan pengusaha dan manajemen usaha kecil di Indonesia. Gapura Digital merupakan program digital skilling yaitu kelas dari Google yang ditujukan bagi pengusaha kecil di Indonesia. Program digital ini diharapkan mampu meningkatkan kecakapan pebisnis memanfaatkan teknologi digital dalam bisnis kecil dan menengah di Indonesia, serta menjadi lebih produktif dan berkembang pesat untuk menumbuhkan perekonomian negara yang lebih baik.

Pada akhirnya, manfaat literasi digital tak hanya berdampak pada anak balita dan tingkat pelajar, tetapi berdampak pula pada orang dewasa seperti orang tua anak, mahasiswa, dosen dan kalangan masyarakat umumnya. Manfaat literasi digital juga tidak hanya dirasakan perkembangannya dari segi pendidikan, namun juga perkembangan ekonomi secara keseluruhan.

(a)

(b)

Gambar a) Infografik Guru/Dosen yang Mengajar dari Rumah dan b) Infografik Jumlah Peserta Didik yang Belajar dari Rumah (Sumber : Katadata.co.id)

 

Sejalan dengan hal itu, pemerintah tengah menargetkan Indonesia sebagai pusat ekonomi digital di Asia Tenggara pada 2020. Berdasarkan data terbitan Katadata, tepat pada 10 November lalu pemerintah meluncurkan penerbitan roadmap e-commerce. Peningkatan pemanfaaan aplikasi digital ini terus didorong untuk mendukung kemajuan perekonomian di Indonesia.

Infografik Potensi Ekonomi Digital Indonesia (Sumber : Katadata.co.id)

 

Namun perkembangan literasi digital kian menjadi tren di masa pandemi sekarang ini, gelaran pelaksanaannya pun menuai perhatian tersendiri untuk masyarakat dan pemerintah. Beberapa masyarakat mengeluhkan mahalnya harga paket data internet. Menanggapi hal tersebut, penulis menganggap perlu adanya pengembangan dari aplikasi edukasi yang sudah ada sebelumnya dengan menambahkan fitur penghasil uang.

Sebagai contoh, setiap aplikasi edukasi, baik untuk pengembangan pendidikan maupun ekonomi dilengkapi dengan latihan-latihan soal. Semakin banyak latihan soal yang dijawab, maka akan semakin banyak poin yang bisa dikumpulkan. Kemudian poin tersebut bisa ditukarkan dengan pulsa atau uang. Cara ini memberikan pengguna smartphone banyak kesempatan untuk menghasilkan pulsa gratis atau uang secara percuma. Dengan ini diharapkan pengguna smartphone semakin bersemangat untuk membudayakan gerakan literasi digital. Selain itu, juga dapat mengucurkan bantuan sosial khusus untuk membantu masyarakat dari golongan menengah ke bawah sehingga tidak perlu khawatir dan mengeluhkan mahalnya harga paket data internet. Dengan demikian penulis menyimpulkan bahwa dengan adanya gerakan literasi digital dapat menjadi solusi bagi masyarakat dalam menghadapi krisis pendidikan dan ekonomi yang sedang terjadi di masa pandemi Covid-19.

 

Referensi :

  • Panduan Gerakan Literasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2017.
  • Infografik penggunaan smarthphone di Indonesia (Sumber : Katadata.co.id).
  • Infografik guru/dosen yang mengajar dari rumah (Sumber : Katadata.co.id).
  • Infografik jumlah peserta didik yang belajar dari rumah (Sumber : Katadata.co.id).
  • Widyanita. 2016. Potensi Ekonomi Digital Indonesia. https://katadata.co.id/ariayudhistira/infografik/5e9a56bc25aa1/potensi-ekonomi-digital-indonesia.
  • Infografik Potensi Ekonomi Digital Indonesia (Sumber : Katadata.co.id).

Penulis : Zuliah Anggraini

Mahasiswi Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Tanjungpura

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here