Kesehatan Mental Yang Baik Diciptakan Oleh Diri Kita Sendiri

0
380

Wartaiainpontianak.com – Kesehatan mental adalah kondisi seseorang untuk melakukan penyesuaian diri yang aktif dalam menghadapi dan mengatasi masalah. Dengan mempertahankan stabilitas diri, maka seseorang akan memiliki penilaian terhadap keadaan dirinya sendiri. Kesehatan mental dapat dibentuk dari berbagai macam kalangan, bisa dari keluarga, teman maupun pengalaman. Tepat pada Sabtu, 10 Oktober 2020 adalah hari kesehatan mental sedunia yang dicetuskan oleh Federasi Dunia untuk Kesehatan Mental (WFMH) dan pertama kali diperingati pada 10 Oktober 1992. Misi adalah meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan advokasi masyarakat seluruh dunia mengenai kesehatan jiwa. Setelah penetapan tanggal tersebut maka pada tahun 1994, Federasi Dunia untuk Kesehatan Mental (WFMH)  mengusung tema “Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan Mental di Seluruh Dunia”. Dilansir oleh https://fixjambi.pikiran-rakyat.com/kesehatan/pr-38818440/selamat-hari-kesehatan-mental-sedunia-10-oktober-who-move-for-mental-health-letss-invest menyebutkan bahwa ” Menurut catatan WHO, hampir 1 miliar orang di dunia memiliki gangguan kesehatan mental yang disebabkan oleh depresi, sebanyak 3 juta jiwa meninggal setiap tahunnya yang disebabkan oleh penggunaan obat terlarang, dan 1 orang meninggal dalam 40 detik akibat bunuh diri. “

Di dalam sebuah keluarga, tentunya keterbukaan sangat diperlukan sehingga terciptalah rasa yang saling melindungi dan menghargai. Orang tua menjadi panutan oleh anak. Membahas perceraian, tentu akan merubah kembali kondisi anak. Maka dari itu, orang tua harus bisa mengontrol diri demi menciptakan generasi yang baik untuk masa depan. Perceraian akan menjadikan pola pikir baru anak yang dimana anak akan berfikir tentang siapa yang salah antar kedua orang tuanya, akan kemana dirinya setelah ini dan apakah bisa hidup hanya dengan satu orang tua dan masih banyak lagi. Belum lagi, saat di sekolah ada bullying tentang perpisahan orang tuanya. Bahkan dalam semua agama, perpisahan adalah jalan terburuk yang dilalui. Selain perpisahan, terus membandingkan anak juga akan membangun mental anak menjadi baik ataupun buruk. Anak dengan mental baik, akan menunjukkan prestasi saat kedua orang tuanya terus membandingkan dirinya dengan kakak atau adiknya. Sedangkan anak yang bermental lemah, akan berfikir tentang kejahatan sehingga dirinya akan mencoba menghancurkan bahkan memusnahkan saudaranya yang terus dipuji. Untuk itu, jadikanlah rumah sebagai tempat paling aman dan nyaman. Keamanan dan kenyamanan dibuat oleh orang-orang didalamnya yang memiliki tenggang rasa.

Selain keluarga, lingkaran pertemanan juga bisa ikut campur dalam urusan kesehatan mental. Biasanya dalam berteman, dapat memperngaruhi kepribadian baik menjadi buruk atau buruk menjadi baik. Tetapi balik lagi ke individunya, apakah mau menjerumuskan diri atau menjadi penenang diantara kekusutan pertemanan yang terjadi. Saling singgung menyinggung tentunya akan berdampak pada kesedihan dan amarah yang membuat masalah baru. Kemudian, jika dalam pertemanan sudah tak lagi ada rasa. Mulai acuh tak acuh, sudah tak lagi ada niat bertemu, tak ada niat tegur sapa bahkan sudah mencari teman baru tanpa mengingat teman lamanya yang sudah berjuang bersama. Mental yang lemah, akan merasakan kehancuran. Sedangkan mental yang kuat akan menganggapnya sederhana, dan terus menjalin silaturahmi tanpa mau lagi ketergantungan. Pertemanan yang baik adalah pertemanan yang tentunya saling memiliki rasa. Rasa yang dibutuhkan adalah solidaritas sehingga mampu menciptakan suasana yang jauh lebih menarik. Saat berteman, masalah dan rintangan yang paling menonjol adalah selisih paham. Alangkah lebih baiknya selisih paham tersebut diselesaiakan dalam satu meja yang sama kemudian menyeduh kopi untuk saling terbuka.

Pengalaman adalah guru terbaik untuk insan. Pengalaman buruk akan membuat sir kita jauh lebih baik atau semakin terpuruk. Begituphn dengan pengalaman yang baik apakah akan terus dipertahankan atau sudah mulai lelah dengan mengingat pengalaman baik tersbut. Berdasarkan pengalaman, diri kita akan menjadi dewasa. Tetapi, ada beberapa orang yang menjadikan pengalaman sebagai kenyataan pahit dalam hidup. Misalnya, pada kasus pemerkosaan. Tentu akan menjadi pengalaman membekas yang secara tidak langsung akan merusak mental seseorang. Seseorang bisa menjadi pendiam, murung, hilang semangat bahkan ketakutan. Kembali lagi pada point keluarga dan teman. Tentunya saat dalam kondisi hancur seperti ini, terbukalah terhadap keluarga dan teman. Jika memang tidak mau dengan keluarga dan teman, masih banyak lembaga kemasyarakatan yang mau membantu. Pada intinya adalah semua masalah tentunya memiliki solusi, tetapi balik lagi lada hati nurani kita dengan cara apa penyelesaian nya. Jangan terlalu pendek dalam memutuskan sesuatu, seperti dengan bunuh diri. Bunuh diri akan merusak nama baik keluarga bahkan akan sangat memalukan, belum lagi urusan kita sama Sang Pencipta yang tentunya tidak akan diridhoi. Hidup itu tidak semudah yang dibayangkan dan tidak serumit yang difikirkan. Di dunia ini masih sangat banyak orang yang mau berjuang untuk mengembalikan pengalaman yang tadinya buruk menjadi pengalaman berharga.

Terakhir, kesehatan mental dibangun oleh kita sendiri. Dalam hal ini, mari sama-sama menjaga kesehatan mental dengan berbagi pengalaman bersama keluarga maupun teman. Bermurung diri bukan menjadi solusi untuk menenangkan diri. Bermurung diri akan menjadi masalah baru untuk kesehatan mental kita karena akan menutup semua jalan keluar sehingga kita terus berpikiran negatif. Untuk menjaga kesehatan mental, maka harus selalu bahagia. Senyum kepada siapapun dan berbagi dengan ikhlas adalah kunci dari kesehatan mental. Menghirup udara segar sembari tertawa bersama keluarga dan teman juga akan menjaga kesehatan mental. Pondasi agama tentunya harus ada. Berpegang teguh kepada Sang Pencipta, maka Sang Pencipta akan membantu segala bentuk permasalahan kita. Mengadulah, dan memohon ampun kepada-Nya. Karena saat bertumpu dengan mengarah tangan sembari menangis, maka Sang Pencipta akan malu jika tidak mengabulkan doa hamba-Nya.

Penulis : Feby Kartikasari
Editor : Syarifah Desy Safitri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here